You are currently browsing the monthly archive for November 2007.
Di suatu subuh..
Bunda.. Bunda.. Azdan bunda..
Aqeela berkata dengan mata masih setengah tertutup. Makasih ya sayang.. udah bangunin bunda..
Gara-gara dikomporin Antie. Hehe ga juga sih, aku aja yang mampir2 ke MP-nya trus tertarik baca buku-buku hasil terjemahannya. Dan sukseslah aku membeli tiga buku ini: 
Ini buku yang keren, dalem dan sudah difilmkan (ugh.. pengen nonton filmnya ni..). Bercerita soal persahabatan & kekeluargaan orang Afghan dengan latar belakang perang saudara di Afghanistan. Antie juga menerjemahkan buku Khaled Hosseini yang lain, “A Thousand Splendid Suns“. Hm.. aku pasti beli kalo dah diterbitkan. Dah jatuh cinta ni ma tulisan Khaled Hosseini. *kedip mata*

Yang ini bukunya Brooke Shields (iya tau, kan ada tulisannya di cover :p). Berisi pengalaman Brookie dalam memerangi depresi pasca melahirkan yang dialaminya. Ga tau ya, kurang suka buku ini, jadinya belum kutuntasin bacanya. Menurutku Brooke agak-agak mendramatisir deh. Hehe.. *angkat dua jari.. peace..*

Yang ketiga, dengan gambar sampul di atas, baru kuperawani tadi pagi. Dah nyolong-nyolong baca dikit. Ga sabar pengen cepet2 baca. Seru nih sepertinya.. Salut buat Antie, yang sudah menerjemahkan buku-buku tersebut di atas. Ditunggu karya-karya terjemahan berikutnya..

Jumat minggu yang lalu kebagian untuk testing di lokasi client. Karena masih menunggu konfirmasi dari pihak ketiga, aku dan client belum bisa bertransaksi dan memutuskan untuk menunggu di kedai Starbucks yang ada di belakang gedung tempat client berkantor. Ya sudah, karena ga pernah secara sengaja ngopi dan ga bisa minum dingin, pilihan jatuh pada green tea latte. Hm.. rasanya lumayan, karena ga ada ekspektansi khusus rasanya akan seperti apa.
Ini memang pertama kalinya aku ke Starbucks. Selain emang bukan anak gaul yang doyan nongkrong, I’m not a coffee addict. (Hm.. nongkrong? Terdengar selfish sekali untukku. Anak mo dikemanain? Hehe.. me time oh.. me time.. kemana perginya me time? Hush! Ngelantur! !$^$%*&!) Selain itu aku juga ga begitu doyan minuman manis. Satu-satunya alasan yang terpikir kalo aku bakalan ke Starbucks lagi adalah: ngenet. Hihi.. nyari koneksi internet gratisan gitu. Ntar lah… klo dah ada notebook punya sendiri. *angkat tangan ke depan dada dan berdoa… aamiin..*
Ga disangka ga diduga sore itu aku ketemu temen lama, temen kuliah dulu. Kira-kira sudah 3 tahun kami ga ketemu. DIbanding jaman kuliah dulu, dia terlihat beda(ya iyyalah!): rapi dalam balutan busana kerja lengkap dengan dasi dan ID Card tergantung di lehernya. “Wait.. Did you mention ID Card?” Refleks tangan saya langsung meraih ID Card-nya. Wow!
Aku (A): “Lho.. jadi kamu kerja di X (salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia)?”
Dia (D): “Iya” *datar*
A: “Lho.. ku pikir kamu berwirausaha? Kemana enterpreneurship kamu?”
D: “Ya.. ini kan juga untuk ngumpulin modal”
A: “Wah.. wah.. Aku tu slalu mikir (baca: beranggapan) kalo kamu tuh ga bakalan kerja (di perusahaan orang lain), kamu tuh enterpreneur sejati”
Duh, kejam ya aku? Kan aku ga berhak menghakimi pilihan orang lain. Hiks.. maapken aku ya, Teman…
Temanku itu memang dulu sekali terkenal dengan idealisme kewirausahaannya. Bahwa, dia selalu meng-encourage kami untuk punya usaha sendiri, instead of bekerja di perusahaan orang lain. Dan setelah lulus kulian pun, dia memang membangun perusahaannya sendiri, which was such a good example of idealism and realization.
Jang, aku ga bermaksud apa-apa kok dengan ucapanku waktu itu. Sukses terus ya, Teman! Kartu namamu aku simpen, sapa tau aku mo nyari kerjaan di perusahaan tempatmu bekerja. *bletak*
Pagi ini on the way ke kantor: macet. Biasa.
Trus naek mobil departemen X yang sopirnya lelet banget. Biasa.
Ya udah, baca buku aja. Chocoluv by Ninit Yunita.
Duh, mana lagunya Yuni Shara lagi. Biasa juga sih, di mobil ini memang selalu Yuni Shara, akhir-akhir ini. Bukannya anti ama Yuni Shara, cuma ya.. lagunya itu melow semua. Bikin mood ama energi turun.
Sampe bukunya abis ku baca, kok ya belum nyampe2 juga. Masih di tol2 juga. Sejauh mata memandang masih antrian mobil juga. U-uh. Gemes deh. Mana lagunya itu lho, satu album berulang-ulang ga ada abisnya.
Bener2 deh.. ni macet ama Yuni Shara. Kombinasi terburuk yang pernah ada.
Sampe kantor, yeah jelaslah, telat aku. Dah gitu ga sengaja nyanyi aja gitu salah satu lagu si mbak Yuni Shara, “berita ku haraaap darimu…” Oh, ampun…!!!

Hm.. we’ll never know what tomorrow brings, right?
Aqeela lagi seneng-senengnya melakukan ritual “tuang-menuang”.
Iya, tuang-menuang. Biasanya yang jadi korban adalah mainan-mainannya sendiri. Jadi mainan2nya itu ditempatkan dalam satu ember (aslinya tempat lego) dan satu toples kerupuk plastik yang tutupnya pecah dan beralih fungsi menjadi tempat mainan. Semua mainan akan ditempatkan jadi satu di ember trus dituanglah ke toples. Setelah semua masuk ke toples, dituang lagi ke ember. Begitu dan seterusnya. Looping sampai n kali. n-nya berapa, terserah Aqeela. Ga lupa sambil menuang dia akan bersuara, “tuang.. tuang..” Buat dia itu sesuatu yang menyenangkan sekali kayaknya.
Tapi kemarin ini yang jadi korban ga cuma mainannya. Tapi satu toples kue kering yang baru saja dibuka. Setelah berhasil dituang ke meja, dengan santainya dia bilang, “yah.. tumpah..” Duh anakku!
Trus juga lagi seneng2nya berhitung. Dulu di sekitar libur lebaran kemarin dia selalu mulai berhitung dari angka dua, “ua, tiga, emphat, lima, enyam, tujuh, dlapan, sembilas, sepuluh”. Yeah.. dia selalu menyebut angka sembilan dengan “sembilas”. Hihi.. ketuker ama sebelas ya Nak.
Biasanya kalo lagi ga megang sesuatu yang bisa dihitung, Aqeela berhitung dengan melangkahkan satu kakinya lebar-lebar, seolah-olah dia sedang menaiki anak tangga. Yeah, dia memang tangga mania. Ga bisa lihat tangga, bawaannya pengen naik tangga mulu kalo dah lihat tangga. Kalo ga ada tangga, ya gitu tuh, dia membayangkan sedang naik tangga.
Trus sekarang-sekarang ini, dia slalu kehilangan angka enam, “atu, ua, tiga, emphat, lima, tujuh, dlapan, sembilas, sepuluh”. Gatau kenapa.
Ada yang tahu, kemana angka enam-nya Aqeela?
Dulu waktu jaman kuliah, temen-temen sekelas yang sering curhat na jalan bareng aku adalah: Dina, Uli, Viera dan satu lagi Prim (yang kebetulan juga satu2nya cowok di antara kami berlima).
Uli dan aku, sampe sekarang sekantor (bayangin aja, kuliah sekelas and pernah sekosan waktu geladi di Jogja, ee.. sekarang satu departemen di tempat kerja
). Dina kerja di jakarta juga. Viera kerja di Pekanbaru dan Prim juga kerja di jakarta.
Sekarang, dengan kesibukan masing-masing, kami sudah sangat jarang ketemu. Komunikasi paling banter cuma via SMS dan Y!M. Terakhir kami ketemu dengan formasi lengkap udah lama banget, jaman masih di bandung itu.
Jumat minggu yang lalu, tiba-tiba Uli ngebet banget ngajakin ketemuan dengan Dina. Kalo di-arrange jauh-jauh hari malah sering gagalnya, makanya dadakan aja. Gitu alasannya. Yo wis, bungkus. Sore sepulang kerja kami sepakati untuk bertemu. Langit yang semakin sore semakin gelap karena mendung, sempat menciutkan nyaliku untuk tetap datang. Apalagi jumat kan sering macet. Tapi Uli keukeuh acara harus tetep jadi. “Ada yang mo dikenalin Dina, Mil”, kata Uli sambil senyum-senyum. Okey deh..
Inilah penampakan kami setelah kekenyangan ( Aku “cuma” makan satu slice pizza, tapi kok di foto kelihatan nambah berat 2 kg sih :d ):

Itu Dina, Uli dan aku.
Yang mo dikenalin ma Dina yang mana? Ya yang ini nih..

Alhamdulillah, Dina is going to marry on …. (hehe.. rahasia) dan itu adalah calon suaminya, Deni. Seneng liat sahabatku ini akhirnya menemukan jodohnya. Semoga lancar ya Din.. semoga menjadi keluarga SAMARA, semoga cepet diberi momongan… Aamiin..
I’m done. Yang kemarin itu, udah selesai. My boss took care of it. Sekarang saya berhutang penjelasan ke boss gede (atasannya boss-ku langsung), setelah kemarin saya masih berkaca-kaca juga waktu mencoba menjelaskan, dan akhirnya pak boss gede meminta saya untuk cooling down dulu. Setelah saya siap, saya bisa menghadap beliau lagi.
Hari ini, aku sudah bisa melihatnya dari sisi yang lain. Bisa menceritakan sekaligus menertawai peristiwa kemarin. Karena aku ga pengen ini menjadi sesuatu yang ’serius’ di hatiku. Aku ingin memaafkan, mengambil pelajaran. Menertawai tangisku kemarin adalah salah satu caraku untuk introspeksi. Bahwa yang kemarin itu, bisa jadi bukan sesuatu yang “segitunya” sampai harus membuatku emosi lalu ujung-ujungnya nangis.
Tapi tetap saja, sebisa mungkin, saat ini aku akan menghindari berurusan dengan tempat she works. Ga dulu deh. Daripada erupsi yang ku tahan kemarin, meletus lagi. Ga sih, ga dendam. Setidaknya aku MENCOBA untuk ga dendam. I just need some times to heal (minjem istilahnya Linderman of Heroes *halah*).
Pagi yang berat..
Telpon untuk koordinasi yang berakhir dengan tidak enak.
Ugh!! Susah sekali jadi orang yang sabar. Jadi posisi yang benar, tapi tidak bisa membela diri. Ah, ga penting. Aku ga peduli sapa yang salah, aku cuma mau solusi. I knew at the first place, it was just defense mechanism. And you know what, u did it in a very damn good way. Hell yeah, it worked. You won. Puas lo? Puas?
Ufh.. ampuni aku hari ini ya Allah.. for being ga sabar. For crying insted of negotiating.
Hu-u.. sedih..
p.s.
Hari ini padahal mo posting berita gembira dari seorang teman. Ya sudah deh.. this thing came up and yeah ruined my mood. Ya sudah.. ya sudah…

Recent Comments