You are currently browsing the monthly archive for September 2007.
Sudah jadi kebiasaan kalo aku tiap hari di kantor slalu nelpon ke rumah, ngecek keadaan Aqeela. Acara telpon-telponan kemarin sumpah lucu abis. Ga percaya? Ni dia kutipannya:
Bunda: “Aqeela ngapain Ma?”
Eyang: “Itu lagi mainan.. Sibuk sendiri dari tadi.”
Aqeela: “Eyang.. eyang…”
Eyang: “Iya.. Apa Dek?”
Aqeela: “Bola.. bola..”
Eyang: “Bolanya kenapa?”
Aqeela: “Pipis.. pipis..”
Eyang: “Huahahaha…”
Bunda: “Napa Ma?
Eyang: “Itu Aqeela bilang bolanya pipis.. gara-gara bolanya masuk kamar mandi”
Bunda+Eyang: “Huahahaha….”
Ungkapan “Life begins at 40″ ternyata juga berlaku untuk burung Elang. Menurut hasil penelitian (ntar sumbernya dicari lagi deh, yang jelas saya dapat info ini dari slide yang ditampilkan waktu pengajian di kantor, kemarin), Elang adalah burung dengan tingkat harapan hidup yang tinggi, yaitu 70 tahun. Tapii… untuk mencapai umur 70 tahun tersebut Elang harus membuat keputusan penting di umur 40 tahun.
Di umur 40 tahun tersebut, kondisi fisik Elang bisa dibilang at their lowest point, yaitu:
- paruhnya memanjang
katanyasampai hampir menyentuh dadanya *ga kebayang!* - bulu-bulunya tebal dan berat sehingga memperberat kerja sayapnya
- cakarnya melemah sehingga ia mengalami kesulitan menangkap mangsa
Untuk itu, Elang harus mengambil keputusan antara “dying” dengan kondisi fisik yang melemah atau.. melakukan perubahan ekstrim yang menyakitkan.
Semua elang memilih pilihan yang sama, yaitu melakukan perubahan. Maka, di usia 40 tahun, elang akan menuju ke puncak gunung untuk mengasingkan diri dan berubah. Perubahan yang dilakukan dimulai dengan menabrakkan paruhnya yang panjang dan melengkung sehingga paruhnya patah. Lalu elang tersebut menunggu tumbuhnya paruh baru. Jika paruh baru sudah tumbuh, maka elang akan mencabuti kuku-kuku cakaranya supaya tumbuh kuku-kuku baru. Jika kuku-kuku barunya sudah tumbuh kuat, maka kuku-kuku itu dipakainya untuk mencabuti bulu-bulu panjang dan tebalnya supaya tumbuh bulu yang baru. Demikian panjang proses yang harus dilaluinya. Ga tanggung-tanggung, proses tersebut memakan waktu kurang lebih 5 bulan! Dan selama itu pula, elang tersebut tidak makan! Wow!
Subhanallah ya.. Ternyata segitu beratnya perjuangan Elang untuk bertahan hidup, another 30 years. Lalu kita? Manusia? Mari kita belajar dari elang…
“Allah tidak akan merubah (nasib) suatu kaum, kecuali (kaum) melakukan perubahan..”
Gambar dari sini.
Selama bulan Ramadhan ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap jam istirahat di kantorku ada pengajian. Kecuali di hari jumat tentunya.
Senangnya aku karena kemarin pengisi kajian adalah Prof Dr. H. Arief Rahman, M.Pd. Aku memang suka sekali dengan profil bapak satu ini. Selain karena komitmen beliau di dunia pendidikan, secara pribadi juga beliau adalah orang yang santun, sabar dan juga humoris. Salah satu figur panutan deh. Menurutku lho…
Pertama kali aku kagum pada beliau adalah waktu temanku yang menjadi salah satu alumni SMA Lab School bercerita bahwa setiap pagi Pak Arief ini datang lebih pagi dari semua murid dan setiap pagi juga beliau berdiri di gerbang sekolah untuk menyalami semua muridnya! Mungkin buat anda ini bukanlah” sesuatu”, tapi buatku ini adalah contoh sikap santun dan disiplin yang nyata! Ga cuma omdo alias omong doang…
Pak Arief yang sudah 15 tahun memimpin Lab School ini sekarang sudah tidak lagi aktif di Lab School. Saat ini beliau mengelola sekolah yang beliau sebut sekolah Diponegoro. Di mana disitu bersekolah anak-anak dari kelas ekonomi bawah. Anak pemulung dan pengamen, misalnya.
Dalam kajian yang disampaikannya kemarin, beliau menyebutkan bahwa untuk mendidik anak cerdas dunia akhirat diperlukan 2I dan 3S. 2I yaitu Iman dan Ikhlas. 3S yaitu Sholat, Sabar dan Syukur. Soal sabar, saya terkesan dengan pengertian sabar menurut beliau. Sabar, menurutnya adalah cerdas. Kok bisa? Menurut beliau, kalo orang yang sabar pasti cerdas. Sebaliknya orang yang tidak sabar pasti bodoh. Kalo orang sabar pasti fleksibel, kreatif dan punya banyak akal dalam usaha untuk problem solving. Ga bisa pake cara A, coba pake alternatif cara B, C, D dst. Tapi kalo orang tidak sabar dan marah-marah jika menghadapi masalah, itu karena orang tersebut tidak kreatif (bodoh) mencari alternatif jalan keluar yang mungkin ada. Begitu kurang lebih penjelasan beliau.
Masih menurut Pak Arief, negeri ini telah melakukan pembodohan pada rakyatnya karena bertanya seringkali dianggap melawan. Seperti yang terjadi padanya, “hanya” karena bertanya beliau dipenjara sebanyak 17 kali. Misalnya waktu bertanya pada Bung Karno, mengapa Bung Karno mau bermain-main dengan komunisme atau waktu bertanya pada Pak Harto, mengapa kekayaan negara kok diberikan ke anak-cucunya. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebutlah beliau dipenjara. Ugh! Negeri yang sakit!
Salut aku pada Pak Arief! Semoga selalu dirahmati dan dilindungi Allah serta diberi nikmat sehat dan panjang umur ya, Pak. Negeri ini butuh Bapak..
Kemarin, sampai di rumah sekitar jam 18:40 WIB, langsung ambil wudhu trus sholat maghrib. Setelah sholat, liat di tv ada berita gempa di Bengkulu berkekuatan 7,9 SR! Langsung kepikiran Amri, partnerku dalam project bill payment di Bank Bengkulu yang sejak hari minggu, 9 Oktober 2007 lalu sudah berada di Bengkulu untuk keperluan UAT.
Gimana ya situasi dan kondisi di sana? Apa Amri dan warga lain selamat? Ada korban jiwa ga?




Episode ini berakhir sudah. Alhamdulillah happy ending.
Kemarin siang adalah episode perdana dimana Aqeela kembali menyusu padaku dalam keadaan sadar dan dengan kemauannya sendiri, tanpa paksaan atau bujukan.
Iseng-iseng aja pengen nyoba posting dari MS Word 2007. Sekalian pengen upload foto-foto Aqeela waktu main di taman Masjid Al Muhajirin, Pondok Kelapa.
Updated:
Foto-fotonya ternyata ga mau muncul. Kenapa ya? Hm.. mesti dioprek lagi nih. Ya sudah, ini fotonya:



Kemarin, Sulis, sahabatku yang baru saja melahirkan dua putri kembar, mengirimiku SMS. Isinya kurang lebih menyiratkan bahwa dia mengalami kesulitan dalam menyusui her twins. Langsung agak-agak panik, aku telpon dia. Dari hasil obrolanku dengan Sulis, kurang lebih kesulitan yang dihadapi dalam menyusui anak kembar adalah:
Belum bisa menyusui bersamaan, ini mengakibatkan waktunya benar-benar tersita untuk menyusui bergantian sehingga ia kurang bisa beristirahat. Atau jika kedua bayinya sedang terbangun dan minta menyusu dalam waktu yang berbarengan, hanya satu bayi saja yang bisa ia susui dan bayi satunya lagi terpaksa diberi susu formula dengan dot pula!
Sejak kejadian ini, sampai sekarang Aqeela masih belum mau menyusu padaku. Gapapa, mungkin dia masih needs some times. Meanwhile, perkembangan kemampuan berbahasanya cukup mencengangkan kami.
Do’a
Dari beberapa do’a yang kami ajarkan, do’a sebelum tidurlah yang lumayan paling dihapal Aqeela. Rutinitas sebelum tidur biasanya diawali dengan minum susu, selanjutnya:
Aqeela (A): “Uu.. abis.. abiss..” *susu di botol sudah habis diminumnya*
Bunda (B): “Iya nih susunya dah abis.”
A: “Bobo’.. Bunda.. Bobo’”
B: “Baca do’a dulu ya, Bismika..”
A: “Allah.. humma.. ah… ya..”
B: “Wa bismika..”
A: “Amuuu..k” *baca: amuut versi Aqeela*
A: “Aa-a.. Amiin…”
Bintang Kecil
Salah satu lagu favorit Aqeela:
A: “Bentang ecik.. angik iyyu” *bintang kecil di langit yang biru*
A: “Amak anyak anthasa” *amat banyak menghias angkasa*
B: “Aku ingin.. “
A: “Ebam..” *terbang*
B: “Dan..”
A: “E-a-iii..” *menari”
B: “Jauh…”
A: “In-ji empat… Ada..” *tinggi ke tempat kau berada”



Recent Comments